Mendidik Negeri, Membangun Pondasi Demokrasi
Mendidik negeri, membangun
pondasi demokrasi
(Rachel Marselino)
Siapa yang tidak mengenal Socrates? Tokoh filsuf dan pemikir ternama. Bagi socrates filosofi
bukanlah hasil, bukan pula ajaran yang berdasarkan dogma. Bagi Socrates, filosofi tidak lain ialah fungsi yang hidup,
fungsi untuk menunjukan serta menghidupkan nilai-nilai kebenaran. Dalam konteks
demokrasi, Socrates menjadi salah satu tokoh yang menentang demokrasi. Dalam benak
Socrates beranggapan bahwa demokrasi
adalah suatu sistem yang buruk. Jauh sebelum demokrasi modern
terlaksana, filsuf asal Yunani ini pernah mengatakan bahwa “Demokrasi adalah
sistem yang buruk, jika tidak adanya pemahaman politik yang setara antar
masyarakat.”
Analogi sederhana dari sistem
demokrasi seperti ini; jika dalam sebuah negara terdapat 1000 orang yang
memiliki hak untuk memilih. Kemudian dari 1000 orang tersebut terdiri dari 700
orang yang buta politik misalnya, atau bahkan dari 700 orang tersebut juga
terdapat segolongan orang yang dalam tanda kutip memiliki ketertinggalan secara
pendidikan. Sementara, 300 orang sisanya adalah mereka yang betul-betul melek
politik. Yang memilih berdasar analisa yang sungguh-sungguh. Sudah barang
tentu, dalam sistem ini 700 orang atau suara-lah yang memenangkan kontestasi. Lalu,
apakah bisa menjamin bahwa pemimpin yang dipilih oleh 700 suara ini adalah
pemimpin yang terbaik? Kita tidak bisa melontarkan anggapan bahwa 700 suara
diatas merupakan orang-orang yang tidak layak ataupun pemimpin yang mereka
pilih bukan yang terbaik. Sebab dalam sistem
demokrasi yang kita jalani bersama, kedaulatan
rakyat adalah sektor tertinggi yang harus ditegakkan dalam mewujudkan
cita-cita demokratisasi bangsa. Lalu apa yang perlu kita perhatikan dalam
menjaga penerapan sistem demokrasi agar berjalan dengan optimal?
Jawaban-nya Mendidik negeri. Apa maksud-nya? Apa yang harus dididik dari negeri
ini? Baiklah, kawan-kawan coba kita lihat salahsatu faktor utama yang mendorong
negara kita untuk mewujudkan narasi Indonesia
Emas, adalah pertumbuhan level perekonomian. Kemungkinan pertumbuhan level
perekonomian Indonesia meningkat, salah satu diantaranya adalah karena kita
akan mengalami sebuah fenomena yang bernama Bonusdemografi.
Dalam Bonusdemografi, salah satu faktor
bonusdemografi yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi adalah HDI (Human
Development Index) atau juga disebut dengan Indeks pertumbuhan manusia (IPM).
IPM ini adalah indeks yang mengukur keberhasilan dalam upaya membangun
kualitas hidup manusia yang berbasis pada tiga komponen dasar, yaitu Kesehatan; indikatornya Angka Harapan Hidup (AHH),
Pendidikan;
indikatornya Harapan Lama Sekolah (HLS) dan Rata-rata Lama Sekolah (RLS) dan
Pengeluaran;
yaitu standar hidup layak yang diukur dengan pengeluaran rata-rata per kapita. Oke, kita tidak membahas terlalu jauh soal
itu (Bonusdemografi). Yang perlu kita perhatikan adalah apa hubungan-nya
Indonesia emas (Bonusdemografi) dengan demokrasi?
Sejauh pemilu 2024 ini, ada beberapa
calon wakil rakyat baik dari eksekutif maupun legislatif yang meng-kampanyekan
diri di hadapan masyarakat umum. Hampir semua calon melakukan kampanye, tapi
tidak semua calon konsep kampanye-nya bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan
anak bangsa. Dalam hal ini kampanye yang bersifat edukasi ataupun mendidik. Demikianlah
yang saya sebut dengan istilah Mendidik
Negeri untuk menyusun kembali marwah dan indentitas demokrasi yang
sejatinya.
Tulisan ini bukan tulisan bayaran,
ini murni hanya kekaguman saya selaku penulis terhadap konsep kampanye beberapa
calon wakil rakyat. Kita sebut saja tikar ganjar-tabrak prof, kemudian desak
anies-slepet imin. Dan ada juga saya pernah mengikuti sebuah seminar yang diisi
oleh seorang caleg di daerah saya. Beberapa waktu yang lalu saya juga datang ke
acara desak anies. Pada waktu itu, bertepatan dengan hari terakhir desak anies.
Desak anies sudah berjalan di 22 event selama masa kampanye terhitung kurang
lebih 75 hari. Di desak anies hari itu banyak sekali pesan-pesan, aspirasi,
bahkan harapan-harapan masyarakat kecil yang secara langsung bisa tersampaikan
kepada Anies Rasyid Baswedan pada waktu itu. Dan diakhir sesi, Anies Baswedan
menegaskan bahwa;
negara yang berdaulat adalah negara yang menjaga marwah
demokrasi dengan sungguh-sungguh. Demokrasi akan lahir dan bertumbuh di dalam
proses berpikir serta ruang-ruang diskusi.
Sekali lagi, tulisan ini tidak ada maksud untuk
meng-sukseskan salah satu paslon melainkan hanya untuk berbagi pengalaman
terbaik saja. Perlu kiranya dalam momentum pemilu ini kita jadikan sebagai
ajang untuk banyak belajar tentang demokrasi, politik, hukum, sejarah, dsb. Pesan
yang melekat dalam konstestasi pemilu saat ini seharusnya, jangan sia-siakan situasi pemilu
meski se-rumit apapun. Sebab ia akan membawa banyak pembelajaran di dalamnya.
Kembali ke demokrasi, konsep
kampanye seperti diatas menunjukan bahwa negara harus hadir secara nyata dalam
mewujudkan situasi demokratisasi yang optimal. Artinya, pencerdasan anak bangsa
perlu dilakukan secara intens guna menjadi stimulus daya pikir dan analisa
anak-anak bangsa kedepan-nya. Budaya ber-literasi, memvalidasi kabar ataupun
berita, serta berpikir berlandaskan suatu hal yang bisa dipertanggung-jawabkan
kebenaran-nya sudah sepatutnya menjadi budaya yang patut kita lestarikan.
Saya bangga, saya meng-apresiasi
model kampanye berbasis diskusi yang dilakukan banyak calon wakil rakyat
disana. Model kampanye seperti inilah harapan-nya akan lestari dari
masa-ke-masa sebagai upaya “Mencerdaskan kehidupan bangsa.”

Komentar
Posting Komentar