APA YANG KAU CARI DISINI?
APA
YANG KAU CARI DISINI
Sebagai
seorang manusia yang dianugerahi akal pikiran, kerapkali ragam persoalan
melilit isi kepalaku. Pernah suatu ketika aku membaca sebuah kutipan perkataan
dari seseorang yang membuatku sedikit bergeming dan sejenak berpikir. Dia
Bernama Tom Hanks, dia juga dikenal sebagai seorang aktor, ia pernah berkata
“Kita butuh uang untuk
sekolah, kita juga butuh sekolah untuk mencari kerja, kita butuh kerja untuk
mencari uang. Saya salut pada pembuat sistem gila ini.” Ujar
Tom Hanks
Kalo
dipikir-pikir bikin mikir juga, kalo sistemnya seperti itu lantas apa yang kita
cari disini? Apa orientasi kita dalam perjuangan hidup di dunia ini? Coba kita
inget-inget kutipan perkataan Buya Hamka
“Kalo hidup hanya sekedar
hidup, kera di rimba juga hidup. Kalo kerja hanya sekedar kerja, kerbau di
sawah juga bekerja.”
Kutipan
diatas bukankah menunjukan bahwa pada hakikatnya hewan pun juga sedang berjuang,
lantas apa yang membedakan perjuangan antara manusia sebagai makhluk yang
derajatnya paling tinggi dengan hewan-hewan yang Tuhan ciptakan?
Lalu “apa yang harus
kita lakukan? Apa yang kita cari di dunia ini?” pernyataan ini sempat ku
lontarkan pada beberapa teman nongkrong ku. Beragam pendapat kudengar dari perspektif
yang berbeda-beda. Namun, ada sebuah jawaban yang membuat sepasang telingaku
terpaku mendengar. Dia bilang, “Coba buka makna salah-satu ayat di Al-Qur’an
surah (Adz-Dzariyat:56). “Tidak ku ciptakan jin dan manusia melainkan hanya
untuk beribadah kepadaku.” Firman Allah ta’ala. Coba kita kupas sedikit lebih
dalam makna (beribadah). Pada dasarnya, yang juga kita ketahui perihal makna
ibadah itu ya sholat. Namun, dalam makna lain ibadah merupakan segala bentuk
kebaikan yang kita upayakan sebagai bentuk rasa Syukur atas segala pemberian
tuhan. Begitu katanya, luarbiasa sekali bukan.
Oh
ya, sebelum lanjut lagi aku mau pamer sedikit. Dengan rasa Syukur dan penuh
cinta aku mendapat kesempatan untuk berproses di beberapa tempat. Dengan hal
ini tentu juga sedikit-banyak menyita waktuku terlebih lagi aku adalah seorang
mahasiswa. Lelah? Sudah pasti, terkadang aku berpikir tentang segala hal yang
ku lakukan ini apakah betul-betul akan membawa kebermanfaatan atau justru hanya
sebuah upaya yang berujung sia-sia sebab belum ada benefit nyata yang aku
dapatkan dari ragam hal yang aku kerjakan.
Sempat
juga aku bekerja sebagai tenaga kurir di salahsatu jasa pelayanan transportasi.
Hampir setiap hari dari pagi hingga menjelang dini hari aku berkelut dengan
kehidupan dunia yang tak ada habisnya. Dan ya, aktivitas melelahkan ini hanya
bertahan kurang lebih 3 bulan lamanya dan kemudian aku memutuskan untuk
berhenti bekerja sebagai kurir.
Saat
ini aku beralih fokus untuk aktif berkuliah sebagai makanan pokok dan
berorganisasi sebagai aktivitas pendukung. Setelah melewati masa-masa yang
melelahkan itu sebetulnya banyak Pelajaran yang dapat aku ambil. Namun, melalui
tulisan ala kadarnya ini ijinkan aku untuk berbagi sebuah pesan yang menarik.
Sebuah pesan yang tentu berhubungan dengan kutipan perkataan temanku yang
kusampaikan diatas.
Bunyi
pesanya begini, “Aku tidak kaya, tidak punya cukup uang untuk menjadi orang
yang secara dermawan berbagi rejeki materil kepada sesama. Aku juga tidak
pintar, belum begitu banyak memiliki pengetahuan untuk dapat mengajarkan ilmu
yang berharga. Selain itu, aku juga tidak punya banyak jejaring relasi untuk
dapat membantu orang-orang yang membutuhkan pekerjaan misalnya. Yang kupunya
hanya energi, sebagai seorang pemuda kurasa energiku cukup siap untuk
berlelah-lelah dalam pengabdian atau membantu sesama. Mengabdi sebagai bentuk
rasa syukurku terhadap segala hal baik pemberian tuhan yang telah kudapati.
Dengan
gelombang-gelombang energi yang dimiliki sudah sepatutnya pemuda sebayaku
termasuk aku, selalu siap untuk mendedikasikan diri dalam pengabdian selagi
mampu.
Karena hidup adalah
pengabdian, begitu katanya
Kalo
kata bung Hatta Rajasa, “Segala hal yang kita dapati, yang mengantarkan kita
pada titik baik. Didalamnya tidak terlepas dari peran banyak orang yang secara
tidak kamu sadari telah mengantarmu hingga sampai pada titik baik itu. Maka,
jangan enggan untuk terus membantu orang-orang disekitarmu. Terlebih lagi
orang-orang yang memiliki potensi dalam hal tertentu akan tetapi tidak memiliki
jalan untuk mengantarkan potensinya menjadi sebuah capaian kesuksesan.”
Lalu,
apa makna yang tersirat dari pesan-pesan diatas? Juga coba kita tanyakan pada
diri kita Kembali, apa yang kita cari disini?
Pesan-pesan
panjang diatas bisa jadi mengingatkan kepada kita untuk senantiasa berhati-hati
akan tipu daya duniawi. Dengan ragam dinamikanya terkadang dunia mampu membuat kita
seraya buta, tuli, bahkan bisu ketika terikat dengannya. Tidak kita sadari, gelapnya
membuat kita sudah jatuh terperosok didalamnya.
Ah,
itu terlalu rumit. Sederhananya saja, pesan diatas menegur kita untuk selalu
tersadar bahwa kehidupan kita di dunia tidak selamanya. Akan ada masanya gelar
yang kita dapatkan tinggal nama, pencapaian-pencapaian terbaik yang kita gapai
hanya tersisa pelakat kenangan, bisa jadi rumah yang kita singgahi akan
berganti kepemilikan menjadi milik orang lain, dan kursi jabatan yang kita dahulu
kita dapatkan dengan usaha yang setengah mati-matian pada akhirnya juga
berpindah tangan.
Lalu
apa sebenarnya yang kita tinggalkan untuk generasi yang hidup setelah kita
nanti? Bahkan, apa yang bisa kita bawa untuk mengarungi perjalanan panjang
nanti?
Entahlah, semoga kita
semua cukup bekal untuk perjalanan yang tidak singkat rupanya. Juga semoga apapun
yang kita kerjakan saat ini mampu menjadi sebuah karya yang abadi, hingga pada
akhirnya kebaikan karya itu akan terus mengalir, dan menghidupi dari setiap
generasi ke generasi.
Komentar
Posting Komentar