UNTUK APA AKU PULANG?
UNTUK APA AKU PULANG?
Lamongan, kota yang sepertinya cukup
nyaman untuk singgah dari panjangnya kelana. Bapak itu tidak terlalu tua, juga
tidak lagi muda. Sebut saja bapak Sumarto namanya (nama samaran). Pak Sumarto yang saya temui
beberapa waktu lalu ini seorang pekerja keras. Ia bekerja dengan sangat mulia
sebagai pembersih dan pengolah limbah yang biasa orang kota menyebutnya
‘pemulung’.
Malam itu, aku jumpai pak Sumarto di tengah dinginnya angin malam. Di
sebuah lokasi tempat transaksi jual-beli terpadat di kota ini, pak Sumarto
singgah. Tempat itu biasa di sebut ‘pasar tingkat’ oleh masyarakat setempat.
Ketika hendak beranjak menuju lokasi pak Sumarto beristirahat. Aku juga sempat
berkeliling ke tempat-tempat yang biasanya menjadi tempat singgah bagi para
pejuang nafkah seperti pak Sumarto. Hingga akhirnya, dari beberapa tempat
tersebut aku sangat tertarik pada pak Sumarto yang tertidur tepat disamping
gerobak berharganya. Rasanya tak tega aku untuk membangunkan pak Sumarto
ditengah tidurnya yang lelap. Sempat berpikir
sejenak, hingga akhirnya aku memutuskan untuk membangunkan beliau dengan
membawakan sebungkus nasi goreng yang siap untuk dimakan beliau.
Setelah satu hari menggeluti dunia, rasanya nikmat saja jika di penghujung
hari kita sempatkan untuk berbagi apalagi berbincang-bincang dengan pejuang
nafkah seperti pak Sumarto ini. Pak Sumarto terbangun mendengar panggilanku. Aku
menawarkan nasi bungkus yang aku bawakan untuk beliau dan beliau menerima itu.
kemudian aku mencoba memulai perbincangan dengan bapak itu di saat bapak itu
hendak membuka nasi bungkusnya. Topik yang
aku mulai saat itu, tentu memperkenalkan
diri kemudian di lanjut dengan ijin bertanya mengenai pak Sumarto secara
singkat. Pak Sumarto, di usia yang kuranglebih 65 tahun, berprofesi sebagai
petugas kebersihan lingkungan, daerah asal Kabupaten Malang seingatku.
Setelah agak cair kami berbincang akupun mencoba memantik, bertanya mengapa
ia bisa datang ke Lamongan. Hingga pak Sumarto dapat sedikit menceritakan kisah
pilunya. Pak Sumarto seorang yang
sebatang-kara dulunya. Hidup di tengah padatnya Kabupaten Malang. Kalo ga salah
denger, dan seingetku pak Sumarto bilang bahwa ia sempat dikucilkan ketika
masih tinggal di Malang. Di tolak masyarakat setempat, entah apa penyebabnya. Hingga
pada akhirnya pak Sumarto memilih untuk berlabuh ke kota ini, Lamongan dengan
tujuan untuk mencari penghidupan demi menyambung hidupnya sendiri.
Ada satu kalimat yang aku dengar, terucap langsung dari mulut pak Sumarto.
“gawe opo nak aku moleh, aku wis gadue sopo-sopo.” (buat apa nak aku
pulang, aku sudah tidak punya siapa-siapa.) ucap pak Sumarto.
Kalimat ini cukup mengiang di kepalaku, juga sempat membuatku
menyangkut-pautkan antara kalimat ini dengan beberapa hal yang terjadi dalam
ruang lingkup masyarakat sekitar lainya. Membuatku tersadar, kadangkala aku
merasa seperti tidak pernah mendapatkan rumah untuk pulang. Bukan karena aku
hidup sebatangkara, akan tetapi hanya karena aku tidak mendapat kenyamanan saja
ketika berada dalam rumah. Nyatanya itu hanya perihal ego saja, egoku yang
beranggapan bahwa rumah harus membuatku nyaman. Padahal seharusnya tak seperti
itu, ibarat ini adalah tentang bagaimana
cara kita membuat sesuatu itu menjadi nyaman untuk kita, bukan mengharapkan
sesuatu itu dapat membuat kita nyaman.
Berbincang dengan seseorang asing yang aku kehendaki sepertinya sudah
menjadi hobby. Tentu, darinya aku seringkali mendapat banyak pembelajaran untuk
lebih bersyukur juga untuk menyikapi jalannya kehidupan dari hari ke hari. Tulisan
singkat ini aku tulis sebagai bentuk syukur atas pembelajaran yang aku dapat
dari pak Sumarto. Bapak itu mengajarkan kepadaku secara tidak langsung, untuk lebih
menghargai sesuatu, apapun itu. terlebih
lagi juga untuk memperlebar jalan syukurku. ketika kita sedang menghadapi
sebuah masalah, ternyata kita tidak benar-benar sedang menghadapi masalah yang
sebenarnya. Menurutku saat ini, masalah yang sebenar-benarnya masalah adalah ketika kita sudah tiada lagi di dunia dengan
tidak meninggalkan sesuatu apapun yang dapat menyelamatkan kita.
Sebesar-besarnya masalah kita, toh kita masih bisa makan dengan kenyang dan
makanan yang nikmat. Mungkin juga kita masih punya atap yang teduh untuk
tertidur lelap. Mungkin kita juga masih punya gedung-gedung untuk menimba ilmu.
Mungkin saja kita juga masih bisa berdiri, berjalan, bahkan masih mampu untuk
berlari. Sedangkan di luar sana? Pak Sumarto? Atau bahkan, mungkin ada yang
lebih menderita lagi? Entahlah.
Terkadang disana masih banyak
yang lebih terusik, hanya saja mereka
tak berisik.
Sekian, tulisan ini aku tulis dengan sadar dan sehat sepenuhnya. Benar-benar
hanya ingin untuk menggugah gairah manusia. Untuk lebih menikmati setiap waktu
demi waktu, momen demi momen, masa demi masa yang terjadi saat ini. Menyikapinya
dengan indah dan penuh tawa bahagia.
Komentar
Posting Komentar