SEHATKAH DUNIA?
SEHATKAH DUNIA?
Hari itu disudut kota, dibawah
terik sinar matahari. Bapak tua itu berdiri menunggu pembeli. Dengan murah
senyum, bapak itu menawarkan dagangannya kepada setiap pengendara yang berhenti.
Tampak lelah raut wajahnya, tampak begitu berat perjuangannya. Diriku
takbisa membantu lebih, hanya bisa membeli jualan-nya. berharap dengan
membelinya dapat sedikit membantu perjuangannya.
“permisi, bapak jualan apa.” Tanyaku pada bapak tua waktu itu.
“ini bapak jual krupuk ladu cung.” Jawab bapak itu dengan senyum khasnya.
“harganya berapa, boleh ambilkan satu aja pak.” Ucapku.
“ini cung satunya cuma lima ribu rupiah aja.” Ucap bapak tua.
“ini uangnya kembaliannya buat bapak aja.” ucapku
“makasih banyak yo cung, semoga dilapangkan rezekinya." Ucap bapak
tua.
Memang terlihat sederhana, namun nyatanya berbagi dengan cara ini lebih
membuat si bapak mulia dan tidak terpandang rendah. Bapak tua itu terlihat
sangat ramah dan murah senyum. Pakaian yang digunakan bapak itu sedikit lusuh.
Dibawah terik sinar matahari bapak tua itu terlihat sangat semangat sekali
demi dapat menyambung hidupnya sehari-hari.
Terkadang diri kita yang hidupnya bisa dibilang serba ada, mau makan masih
mudah. Masih saja sering merasa seolah-olah hidup ini begitu susah. Diuji
dengan seglintir masalah langsung merasa hidup selalu salah. Nyatanya memang
hidup tak selalu mudah, tidak sedikit masalah akan selalu mendatangi kita.
Memang dimata kita, dunia takpernah adil. Yang kaya tetap kaya, yang miskin
tetap miskin. Yang kaya makin kaya, yang miskin mau makan aja susah. Dari sang
bapak tua diriku dapat belajar banyak hal. Salah satunya adalah begitu berharganya
rasa syukur terhadap apa yang telah tuhan berikan.
Benar kata orang-orang bahwa harta bukanlah kunci bahagia, kebahagiaan yang
sesungguhnya terletak pada rasa syukur yang luas dan sabar yang tiada batas. Namun
bagi sebagian orang yang lain beranggapan bahwa, kunci bahagia adalah memiliki
harta yang bisa menjamin kehidupanya.
Haha yaaa begitulah jika fanatik dunia dengan berbagai lika-likunya, aku
menyebutnya “DUNIA ITU FANA”. Berbagai kenikmatan,
kebahagiaan dan keresahan di dunia cuma tipuan saja. Ada yang punya harta
melimpah, tapi punya masalah dengan kesehatanya. Ada juga yang punya harta
melimpah, tapi tidak ada keharmonisan dalam keluarganya.
Di sisi lain, kita melihat keluarga yang dinding rumahnya hanya terbuat
dari bambu dan kayu. Pakaian yang mereka gunakan juga tidak sebagus yang kita
punya. Tetapi sungguh beruntung keluarga mereka.
Memiliki kepala keluarga yang mampu bekerja sekuat tenaga dan tak kenal
menyerah, seorang ibu yang tangguh tak mudah mengeluh, anak-anak yang taat
patuh, dan keharmonisan keluarga yang utuh.
Terkadang tolak ukur ketidakadilan dalam hidup adalah soal harta. Mereka yang
miskin harta dianggap hidupnya sengsara. Mereka yang kaya menjadi pandangan
bahwa hidup harus menjadi seperti dia, yaaa seperti dia si orang kaya.
Padahal tuhan membagi nikmatnya bukan hanya soal harta. Jiwa yang kuat dan
sehat, waktu dan keharmonisan keluarga, diberi tulang yang kuat untuk melawan
kerasnya kehidupan juga termasuk nikmat yang tak terbayarkan.
Dibawah terik sinar matahari si bapak tua berdiri. Memikul kerupuk ladu
jualanya ditengah keramaian kota. Lalulalang kendaraan mewah didepan dirinya
tak menyurutkan semangatnya. Mungkin pendapatanya tak seberapa, juga tidak bisa
mencukupi kebutuhanya.
Tetapi senyum bapak tua itu mengajarkan betapa mahalnya arti sabar dan
syukur. Sedikit harapanku smoga si bapak tua selalu diberi kesehatan dan
kekuatan.
Doa terbaik juga untuk semua pejuang rupiah. Memang hidup tidak ada yang
mudah, jika kita takmau berusaha maka tidak ada yang salah jika hidup makin
susah.
Terimakasih buat yang sudah baca, jangan lelah berusaha agar hidupmu gak
susah. hal baik menyertaimu, semoga!
Komentar
Posting Komentar