DNA SEPAKBOLA

 

DNA SEPAKBOLA

 

Sebelumnya perkenalkan namaku Rachel marselino. Teman-teman biasa memanggilku dengan sebutan “BOMAN”. Usiaku bisa dibilang masih anak baru gede. Usiaku masih menginjak 17 tahun, aku seorang pelajar dan masih ber-sekolah di SMAN 1 LAMONGAN.

 Aku adalah seorang pemimpi yang bermimpi untuk bisa menjadi seorang atlet professional pesepakbola Indonesia. Sebenarnya satu-persatu mimpiku sedikit terwujud, akan tetapi gelombang badai dan guncangan-guncanganya menerpa lebih keras jalanku ditengah-tengah perjalanan meraih mimpiku.

Aku bukanlah seorang penulis. Cerita ini aku tulis hanya karena gabut yang ber-kepanjangan WKWKWK. Singkat saja aku ingin membagikan ceritaku ini dan semoga kalian yang membaca ini selalu dalam lindungan aamiin!!.

 


 

#1  LAHIR-NYA SEORANG PEMIMPI

 

Menjadi pemain sepakbola professional adalah mimpi  setiap anak bangsa. Pemuda mana yang tidak ingin menjadi pemain sepakbola professional apalagi jika membela panji sang Garuda. Aku adalah salah satu dari ratusan juta anak Indonesia yang ber-mimpi untuk menjadi pemain sepakbola professional.

Saat kecil aku tidak mengerti sama sekali apa itu sepakbola. Yang ada dikepalaku, sepakbola  hanya sekedar permainan lari dan tendang bola sana-sini. Btw Ayah  dan Ibuku berpisah sejak aku ber-usia kuranglebih 5 tahun. Aku tinggal bersama ibuku hingga saat ini.

Pertama kali aku jatuh cinta pandangan pertama  dengan sepakbola adalah saat ayahku mengajakku untuk nonton pertandingan sepakbola. Waktu itu pertandingan antara PERSELA LAMONGAN VS PSAP SIGLI kalau tidak salah tahun 2009. Se-pulang menonton pertandingan itu aku jadi suka sepakbola.

Setiap hari ayahku membaca Koran, stelah ayahku selesai membacanya giliran aku yang ingin melihat Koran itu. Bukan untuk diibaca melainkan hanya untuk mencari gambar sepakbola lalu aku gunting dan tempel ke pintu-pintu rumah, inikah yang disebut GABUT SEJAK DINI WKWKWK.

Waktu berlalu dan tiba saat-saat perpisahanku dengan ayahku, dan kini tiada ayah yang berhasil membuatku jatuh cinta pada sepakbola.

tanyaku ketika itu, apakah ada orang yang mengajakku melihat sepakbola lagi seperti Ayah?. Tanyaku pending untuk terjawab dan hari demi hari kian berlalu. Ibuku sadar bahwa aku suka dengan sepakbola. Saat usiaku genap 8 tahun ibuku mendaftarkan aku disalah satu sekolah sepakbola di Lamongan.

Saat itu hari Jum’at 2010 silam. Waktu itu ibuku tidak bilang jika beliau ingin mendaftarkan diriku ke sekolah sepakbola. Ibuku berkata dengan Bahasa Jawa yang artinya,

 “Nak, siang ini kamu mendapat undangan ulang tahun dari temanmu. Segera mandi dan ibu antar kamu ya.” Ucap ibu dengan menyiapkan baju untukku.

Aku segera bersiap dan berangkat. Setelah tiba disana aku kebingungan karena ini bukanlah rumah tempat temanku merayakan pesta ulangtahun-nya. Ini adalah lapangan tempat anak-anak bermain dan berlatih sepakbola. Ibuku mendatangi bapak-bapak yang merupakan pelatih di sekolah sepakbola itu.

Aku tak tau, yang ku tau ibuku ber-bincang dengan bapak itu hingga akhirnya ibuku mengeluarkan kardus yang ternyata isinya sepatu sepakbola berwarna jingga. Ibuku berjalan menuju arahku bersama bapak itu yang terlihat membawa kantong plastic yang ber-isi pakaian berwarna biru muda.

 

Aku kebingungan saat ibuku memakai-kan sepatu itu dikakiku,

“ini apa, ini buat apa.” Tanyaku waktu itu.

Tidak lama-lama ibuku memakaikan aku sepatu dan jersey itu. Aku  berlari menuju kerumunan bocah-bocah kecil yang sedang asik memainkan bola. Dan tanpa rasa malu sedikitpun ku tendang bola kesana dan kemari hingga akhirnya aku beranjak ke usia 13 tahun.

Masih ditempat yang sama aku berlatih, sudah 5 tahun lamanya. Di usia ini cintaku terhadap sepakbola semakin mendalam. Sempat kebingungan juga karena ibuku yang sudah tidak bisa mengantarkanku lagi ke tempat latihan.

Aku mengambil keputusan untuk berangkat ke tempat latihan itu sendirian. Jarak antara rumah dengan tempatku berlatih kurang lebih 15kilometer.

Berangkat sendirian dengan menaiki angkutan umum untuk anak 13tahun bukanlah hal yang wajar. Waktu demi waktu berlalu, kini usiaku menginjak 14tahun. Perjalanan ku dengan sepakbola baru dimulai  di usia ini.

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

      Jangan takut ber-mimpi hanya karena akan ada   kata “kegagalan” di setiap  perjalanan.

                    Tidak ada usaha yang sia-sia, semua pasti ada makna dan “hasil-nya”.

Komentar

Posting Komentar