DNA SEPAKBOLA 2
#2 YOU’LL NEVER WALK ALONE
Sedikit kembali ke-usia 10tahun. Pertanyaanku yang pending terjawab saat itu
menemukan jawaban. Aku hidup dengan ibuku, sejak saat itu aku sangat dekat
dengan pamanku. Pamanku ini juga sangat suka dengan sepakbola. Hampir setiap
tim sepakbola kotaku berlaga pamanku mengajakku menonton pertandingan-nya.
Pamanku tidak hanya mengajak aku seorang untuk menonton
pertandingan sepakbola itu. Biasanya pamanku mengajak 2 orang teman
se-kampungku. Kami berempat mengendarai sepeda motor untuk sampai ke stadion.
Samsul arif, pemain mungil ber-nomor punggung 9 ini adalah pemain yang sangat menarik perhatian dan aku meng-idolakan
dia pada saat itu. permainan cepat dan tendangan salto-nya sangat khas.
Dan sepakbola kampung adalah ajang untuk ku menunjukan
kemampuan-kemampuan yang aku tiru dari sosok Samsul Arif. Gocek sana gocek
sini, cari ruang kosong dan cetak gol. Bayang-bayang sosok Samsul Arif melekat
kuat dan membuat permainan sepakbola ini begitu menyenangkan. Hingga akhirnya
adzan maghrib berkumandang. Entah berapa
gol yang tercipta di pertandingan bola kampung tadi.
Saat kecil mimpiku untuk menjadi pemain sepakbola kerap
ditertawakan. Kemampuan sepakbolaku
tidak sesuai dengan impianku. Tidak ada bakat sepakbola yang terpendam dalam
diriku. Tetapi aku sangat yakin jika aku besar nanti aku pasti bisa menggapai
impianku. Pamanku pernah mendengar ucapanku bahwa aku ingin menjadi pemain
sepakbola seperti Samsul Arif.
Pamanku selalu bilang bahwa,
“tidak ada pemain bola yang hebat begitu saja. Semua
melalui proses dan kerjakeras.”
Kenyang mendengar perkataan itu hampir setiap hari.
Diriku menjadi tertantang untuk membuktikan bahwa aku tidak se-remeh yang
dikatakan orang. Hampir setiap pagi hari pamanku mengajakku berlatih. Melatih
bocah ber-usia 10tahun tidaklah hal yang mudah. Anak se-usia ini hanya suka
bermain. Tetapi pamanku berhasil membuat latihan bola dengan-nya menjadi
permainan yang sangat menyenangkan.
Tiada hari-hariku tanpa menyentuh bola. Tidur, makan,
mandi-pun terkadang aku membawa bola. Hingga pada suatu saat diadakan lomba
sepakbola usia bocil antar RT dikampungku. Karena sering terlihat berlatih
denganku di lapangan, pamanku menjadi pelatih di tim ku. Kami berlatih tiap
sore di lapangan. Hingga hari pertandingan telah tiba. Bagi bocil turnamen seperti ini rasanya seperti bermain
di liga champions wkwkwk. Pamanku merancang formasi dan aku mendapat posisi
striker bermain sebagai pemain inti.
Pertandingan dimulai dan menang, menang
di setiap laga hingga akhirnya melaju ke babak semifinal. Dari semua laga itu,
aku tidak mencetak gol sama sekali wkwkwkk striker model gimana.
Di semifinal timku kalah oleh tim RT sebelah. Turnamen
usai timku mendapat juara ke-3. Masih sama, hingga turnamen usai striker tajam
itu masih tidak bisa mencetak gol. Teman-temanku banyak yang meng-ejek,
“Percuma kamu latihan bola tapi kemampuanmu Cuma
gitu-gitu aja.”,
“Udah gausa latihan bola lagi, gabakal bisa jadi pemain
bola.”
“Udah gemuk, lari aja susah tpi mau jdi pemain bola emang
bisa haha.”
Bocil mana yang dikatain hanya diem. Ke-esokan harinya
aku nantang mereka untuk adu kemampuan bola 1 vs 1. Tapi masih saja aku kalah
dengan mereka. Biarlah, aku menghiraukan perkataan-perkataan mereka sejak saat
itu. bocil ini sedikit percaya bahwa waktu yang akan membalas perkataan mereka.
Tidak luntur cintaku terhadap sepakbola dan tidak putus asaku dengan impianku.
Hari demi hari ku nikmati dengan bermain dan berlatih sepakbola. Pamanku, sejak
turnamen itu usai dia selalu bilang kepadaku.
“sepakbola tidak bisa hanya dengan kemampuan dan fisik
yang bagus. Dalam sepakbola mental yang berbicara, berani dan percaya diri
adalah kunci.”
Entah pamanku begitu percaya bahwa aku pasti bisa sukses
disepakbola atau gimana aku tak tau. Dia begitu berjasa dengan rasa cintaku
terhadap sepakbola. Rasanya dia seperti menjadi sosok ayah dalam hidupku.
Seiring berjalan-nya waktu, Ayahku tau bahwa aku gemar
berlatih sepakbola. Beliau mendukungku walau dari jauh. Pernah di suatu hari
saat usiaku kurang lebih masih 10 tahun. Ayahku mengajakku nonton pertandingan
sepakbola antara AREMA MALANG vs PERSELA
LAMONGAN. Pertandingan itu berlangsung di Stadion Kanjuruhan Malang. Pertandingan
di mulai pukul 15:30 WIB. Sebelum hari itu
Ayah ku berjanji esok akan menjemputku pagi hari di rumah Ibuku. Hari
ke-berangkatan telah tiba, aku telah siap untuk menunggu Ayah sejak pukul 05:00
WIB. Entah karena terlalu semangat aku sudah menunggu hingga pukul 07:00 WIB,
Ayahku tak kunjung datang menjemputku. Aku terus menunggu dengan harapan Ayahku
tak lupa dan tak meng-ingkari janjinya. Waktu itu Pamanku juga hendak menonton
pertandingan tersebut tetapi pamanku berangkat lebih pagi dengan teman-temannya
mengendarai motor.
Putaran jarum jam yang terasa lama dan mem-bosankan telah
menunjukkan pukul 09:00 WIB. Ibuku lantas me-marahiku dan menyalahkan Ayahku
karena dirinya saat itu tak kunjung datang dan se-akan meng-ingkari janjinya.
Jarum jam menunjukan pukul 10:00 WIB. Suara ketukan pintu dan salam terdengar
hingga ke telingaku. Aku membuka pintu dan benar saja, lelaki itu menepati
janji-nya.
Kami berangkat menuju stadion pukul 10:00 WIB. Kata ibuku
perjalanan dari rumahku ke stadion kurang lebih 4-6 jam. Jika 4 jam perjalanan,
maka aku akan sampai di Stadion itu pukul 14:00 WIB. tidak terlambat dan masih
banyak waktu fikirku saat itu. Tetapi, perjalanan tidak se-simpel anganku.
Macet panjang menghalangi laju mobil Ayahku. Ayahku memperkirakan kita akan
tiba di Stadion pukul 16:30 WIB. Resah, jangan sampai perjalanan panjang ini
meng-gagalkan kesempatanku untuk menyaksikan pertandingan FINAL PIALA GUBERNUR
JATIM itu. otak-ku tak berhenti ber angan-angan. Aku tertidur dalam kendaraan,
hingga akhirnya Ayahku membangunkan ku dan bilang bahwa sebentar lagi kita akan
sampai di Stadion. Lantas aku bersiap mengenakan atribut kebangga-an ku
PERSELA. Aku lihat jam saat itu menunjukan pukul 16:45 WIB. Pertandingan
sebentar lagi akan usai fikirku.
Jalanan padat, macet dan parkir penuh adalah khas dari
suporter AREMA ketika menyaksikan tim kebangga-annya berlaga. Ayahku kesulitan
untuk mencari lahan parkir. Hingga akhirnya Ayahku memarkirkan kendaraan-nya di
depan gedung kuning Stadion Kanjuruhan Malang. Sebenarnya itu bukanlah tempat
parkir dan dilarang juga parkir disitu, tetapi Ayahku tidak memikirkan itu.
ayahku bergegas turun dengan mobil dan bersamaku segera menuju pintu masuk
Stadion.
Ayahku baru ingat saat itu kalo dia belum membeli tiket
pertandingan. Gakusah mikir lagi Ayahku langsung membeli tiket ditangan calo
yang harganya berbanding jauh dengan harga asli.
Tiket telah Ayahku genggam. Dengan terburu-buru Ayahku
mencari dimana pintu masuk Stadion. Aku melihat pemandangan kanan kiriku waktu
itu. karena ini adalah kali pertamaku menyaksikan tim kota ku berlaga diluar
kandang. Tanpa sengaja aku melihat papan skor Stadion itu yang terlihat dari
beberapa celah di Stadion itu. yang aku lihat, menit laga di papan skor itu
sudah memasuki menit ke ’75 dan skor masih kacamata 0-0. Aku bilang pada Ayahku
agar segera memasuki stadion.
Kami sudah memasuki pintu masuk Stadion. Tidak ada tempat
lagi, tribun vvip itu penuh sesak semua orang yang tidak mendapat tempat,
berdiri ditribun bawah belakang pagar Stadion Kanjuruhan. Selang 2 menit aku
dan Ayahku menonton pertandingan final itu, striker kebangaan Lamongan pada era
itu mencetak gol-nya dilaga final. Dia
adalah Mario Costas, pemain yang dijuluki “super mario” ini mencetak gol
dimenit ke ’80 dan membawa PERSELA unggul 0-1 dari AREMA sementara.
“golll, Ayah PERSELA menunggu kita datang untuk mencetak
gol!.” Ucapku pada Ayah.
PERSELA yang saat itu di nahkodai coach Miroslav Janu
berhasil mencetak gol lagi. Kali ini giliran sang inspirator yang mencetak gol.
Dia Samsul arif, berhasil membuat PERSELA unggul 0-2 dilaga final itu. hingga
pertandingan ber-akhir PERSELA berhasil mempertahankan kedudukan-nya dan
menjadi sang juara. Aku sangat bangga waktu itu karena bisa menonton
pertandingan final saat itu. setelah pertandingan usai, ratusan bahkan ribuan
pendukung AREMA turun ke lapangan dan meng-ekspresikan kekecewaan-nya. Mungkin
karena mereka juga cinta terhadap tim-nya dan tidak mau kalah apalagi
dikandang. Pertandingan usai, bocil ini semakin cinta dengan sepakbola, dan semakin
melekat pula cinta-nya kepada PERSELA. Kini bocil ini telah beranjak di usia ke
14 tahun.
“Tuhan tidak akan
membiarkan hamba-nya berjuang dan berjalan sendirian. Tuhan akan mendatangkan
orang-orang dan lingkungan untuk menopang-mu dari belakang. Terus melangkah dan
jangan pernah menyerah apapun kondisinya.”